Dari dalam rumah aku melihat sesosok lelaki berdiri di depan pintu, membawa tas punggung dan dan sebuah tas jinjing, sesaat aku tak mengenalinya hingga kuputuskan untuk memakai kacamataku dan menghampirinya. Dia tersenyum padaku, aku pun membalas senyumnya, dan kemudian berlari meraih tas jinjingnya. Kutuntun dia masuk ke dalam rumah.
''Ibu, kak Uni pulang'' kupanggil ibu yang sedang memasak di dapur.
''Jangn bercanda kamu Ris, kakakmu sekarang lagi di Jakarta''
''Yee, Ibu gag percaya sini keluar dulu bu, kakak bawa oleh-oleh nih buat Ibu''. Teriakkku girang sambil membongkar isi tas kakak.
''Apa sih Ris, kerjaan Ibu tu...''
''Bu, maaf Uni gg ngasih tau dulu kalau mw pulang'' kata kak Uni sambil mencium tangan Ibuku.
Ibu sangat terharu akan kedatangan kakakku. Dua tahun yang lalu setelah 40 hari meninggalny ayahku, kak Uni memutuskan untuk menyendiri di ibukota, dia tak tahan berada di rumah, karena terlalu banyak kenangan bersama ayah yang membuatnya lemah. Dan hari ini dia kembali ke rumah. Membawa kebahagiaan setelah sekian lama berpisah.
Uni khairUni, itulah kakakku, 22 tahun yg lalu ia dilahirkan di sebuah desa kecil di kota Lamongan.